Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Daerah

Demo Mahasiswa di Kantor Gubernur Kaltim Memanas, Program “Gratispol” Dikritik Habis-habisan

9
×

Demo Mahasiswa di Kantor Gubernur Kaltim Memanas, Program “Gratispol” Dikritik Habis-habisan

Sebarkan artikel ini
Teks foto : Situasi saat Gubernur Kaltim berdialog dengan masa aksi. (Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda – Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada, Samarinda,  pada Senin (23/02/2026).

Sejak pukul 14.00 Wita, ratusan mahasiswa telah memadati halaman kantor Gubernur Kaltim.

Mereka berorasi secara bergantian, sambil membacakan pernyataan sikap yang dituangkan dalam pakta integritas, dan akhirnya diterima langsung oleh Gubernur Kaltim.

Dalam aksinya tersebut, GERAM menyampaikan tujuh tuntutan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim.

Tujuh poin tersebut meliputi evaluasi dan pemerataan Program Gratispol, penanganan kerusakan ekologis, pemerataan pembangunan infrastruktur, penghentian praktik politik dinasti, perlindungan hak buruh dan masyarakat adat, jaminan kebebasan berekspresi, serta transparansi pengelolaan APBD Kaltim.

Koordinator lapangan (Korlap) GERAM, Angga, menyebut Program Gratispol menjadi sorotan utama massa aksi.

Menurutnya, program unggulan Pemprov Kaltim itu belum dirasakan secara merata, khususnya oleh kalangan mahasiswa.

“Tuntutan ada tujuh yang kami bawa. Kami menyoroti Gratispol yang sampai hari ini belum merata di Kaltim. Pemprov bicara besar di media, tapi implementasinya di lapangan sangat minim,” ujar Angga, saat ditemui awak media.

Ia juga menyinggung janji-janji pemerintah daerah terkait pendidikan dan layanan kesehatan gratis yang dinilai belum terealisasi sebagaimana disampaikan kepada publik.

Angga bahkan menyebut Gratispol tidak sesuai dengan narasi kampanye Gubernur Kaltim.

“Kami menyebutnya Waluhpol, bohong. Katanya mau membangun Kaltim lebih baik, pendidikan gratis, kesehatan gratis. Faktanya tidak nyata, hanya omon-omon,” katanya.

Situasi sempat memanas ketika massa aksi berupaya mendekati pintu utama kantor Gubernur.

Untuk diketahui, berdasarkan pantauan media ini dilapangan, adu argumen dan aksi saling dorong terjadi antara mahasiswa dan aparat keamanan. Ketegangan kemudian mereda setelah dilakukan negosiasi.

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, turun langsung menemui massa kemudian duduk bersama mahasiswa di pelataran kantor Gubernur.

Orang nomor satu di Kaltim itu menyatakan, pemerintah daerah terbuka terhadap kritik dan berjanji menjadikan aspirasi mahasiswa sebagai bahan evaluasi kebijakan.

“Pemerintah tidak anti kritik. Apa yang menjadi aspirasi adik-adik mahasiswa akan kami jadikan bahan evaluasi,” ujar Rudy.(Has/Pii)