Clickbait dan Merosotnya Substansi Informasi Pada Pers di Indonesia

SANGAT LAZIM dewasa ini kita menggunakan teknologi untuk seluruh aktivitas apapun, baik itu aktivitas komunikasi, berekspresi atau bahkan mencari informasi dengan memanfaatkan perkembangan tekonologi.

Dalam dunia modern ini, informasi yang berada pada media digital tentu sangat banyak bahkan bisa dikatakan sebagai “Tsunami Informasi”, hal ini karena tidak terbendungnya arus informasi yang bertaburan pada media massa digital. Sehingga sebagai generasi digital dan berpengetahuan, maka sudah selayaknya kita menyadari akan rentannya terjadi manipulasi informasi dalam sebuah berita/informasi, salah satunya yakni ketika kita membaca berita dengan klik judul yang membuat penasaran karena bahasa yang digunakan provokatif ataupun menarik, namun nyatanya isi atau substansi berita tidak sesuai bahkan cenderung berbeda dengan judul, inilah yang kemudian disebut sebagai “Clikbait” dalam dunia pers hari ini.

Mencegah Clikbait

Clickbait merupakan istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca. Biasanya menggunakan bahasa yang provokatif nan menarik perhatian. Satu Fenomena clickbait mencuat dalam dunia digital khususnya media online, tujuannya hanya satu untuk menarik pembaca atau warganet masuk ke sebuah situsweb dan mendulang apa yang disebut sebagai page view atau jumlah klik yang masuk.

Menurut Mark Bulik, editor The New York Times, secara tersirat ada perubahan strategi pembuatan judul dalam memasuki era digital, namun hal ini juga dapat membuat pembaca merasa tertipu saat membaca dan menuntaskan sebuah artikel karena tidak sesuai dengan judul yang ia klik.


Memang sasaran clikbait ini adalah pembaca yang merasa sisi kognitifnya tersentuh sehingga penasaran untuk melakukan klik dan membaca berita/artikel tadi. Selain itu, karena terjadi kesenjangan pengetahuan membuat celah apa yang diketahui dan ingin diketahui menjadi kesempatan clikbait ini bekerja, meskipun dianggap manipulasi dan jebakan namun korban clikbait justru sadar bahwa mereka tertipu dan berharap artikel yang mereka klik dapat memuaskan sisi emosional.

Teknik untuk mengetahui clikbait ini dapat dilakukan salah satunya dengan esktensi perambah pada Chrome yakni “Stop Clickbait”, ini berguna untuk memberi notifikasi suatu judul artikel berbau clickbait dengan keakuratan mencapai 93 persen.

Selain itu juga dapat melakukan pelacakan program dengan menggunakan misalnya Google Analytics,
dalam Kode Etik Jurnalistik yang diatur oleh Dewan Pers dijelaskan bahwa pers selain merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia dengan berpendapat,

berekspresi juga Pers sebagai sarana masyarakat dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi sehingganya Wartawan Indonesia harus menjamin kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat dan norma-norma agama bisa berjalan seimbang dan tidak memberikan informasi yang bertentangan dengan hal tersebut.

Pasal 1 Peraturan Dewan Pers Nomor 6/Peraturn- DP/V/2008 tentang Kode Etik Jurnalistik menjelaskan bahwa Wartawan Indonesia harus bersikap Independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk. Yang mana ditafsirkan bahwa selain memberitakan secara fakta tanpa intervensi, juga harus obyektif ketika peristiwa terjadi sehingga tidak ada niat secara sengaja untuk merugikan pihak lain. Artinya dalam fenomena “clikbait” ini, pers di Indonesia harus selektif dan objektif dalam memberitakan sebuah peristiwa yang terjadi, jangan sampai justru menimbulkan konflik horizontal dan cenderung menyudutkan salah satu pihak tanpa adanya data-data yang akurat.

Justru hanya mementingkan nilai pragmatis berupa meningkatkanya ekonomi suatu perusahaan media tanpa mementingkan substansi informasi yang di berikan, inilah yang penulis sebut sebagai “Kapitalisasi Media Informasi”.


Pasal 6 Kode Etik Jurnalistik juga mengatur bahwa Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap, hal ini tentunya untuk menghindari pesanan-pesanan “clikbait” dengan informasi yang serampangan namun mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi, tentunya hal demikian sangat mengancam kebebasan pers dan independensi seorang wartawan dalam memberikan informasi pada publik.

Hal inilah yang harus dilakukan sesuai dengan Undang-undangn nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yakni pada Pasal 6 mengatur mengenai Pers nasional yang melaksanakan peranan pada poin (b)
2 menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan; (c) mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar; dan (d) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.


Bahwa kepentingan akuratnya sebuah informasi dan menyajikan keabsahan berita kepada masyarakat untuk kepenting umum harus dikedepankan ketimbang memikirkan nilai- nilai ekonomis yang meningkat sesaat namun menciderai Hak Asasi Manusia dengan menyelewengkan hak orang lain mendapatkan informasi yang benar, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai kaum intelektual sudah semestinya kita harus tetap memberikan edukasi kepada publik akan bahayanya penyesatan informasi dengan trend “clikbait” dan kita juga harus memfilter sumber-sumber informasi agar tidak serta merta terbawa pada berita bohong dan provokatif. (*)

(*Oleh : Muhmmad Naelul Abrori/Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman)