Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin. (Berby/ Times Kaltim)
Timeskaltim.com, Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi yang hingga kini masih tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, dr. Jaya Mualimin menjelaskan, rata-rata kematian ibu dan bayi disebabkan karena lambatnya penanganan saat proses melahirkan dan keterlambatan diagnosa, serta komplikasi pada persalinan. Sehingga berkaca dari kejadian tersebut, Dinkes akan fokus terhadap ANC1 atau konsultasi saat kehamilan ibu.
“Kematian ibu meningkat terutama saat pandemi covid-19, dan ibu yang melahirkan kemudian meninggal hampir 99 persen di Rumah Sakit” ungkap Jaya, Jumat (3/2/2023) saat jumpa pers bertempat di Diskominfo Kaltim.
Terdapat 168 kasus kematian ibu dan bayi pada 2021 lalu. Tingginya kasus tersebut juga disebabkan karena pandemi covid-19. Namun saat ini menurun menjadi 73 kasus.
Jaya menuturkan, kasus kematian ibu dan bayi paling banyak terjadi di Kutai Kartanegara sebanyak 24 kasus, diikuti Samarinda 20 kasus, serta daerah lainnya dibawah 5 kasus.
“Setelah dianalisis, kematian ibu dan bayi ini bukan karena rendahnya kualitas layanan, tetapi memang manajemen dan pelaksanaan upaya kasus ibu melahirkan belum optimal” pungkasnya. (Adv/Bey/Diskominfo Kaltim)












