Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kaltim

Anggota DPRD Kaltim Soroti Kerusakan Pesisir dan Infrastruktur di Maratua, Syarifatul : Pemerintah Tak Boleh Tutup Mata

178
×

Anggota DPRD Kaltim Soroti Kerusakan Pesisir dan Infrastruktur di Maratua, Syarifatul : Pemerintah Tak Boleh Tutup Mata

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kaltim, Syarifah Syadiah. (Roby Sugiarto/Timeskaltim)

Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Syarifatul Syadiah, kembali menyoroti persoalan mendasar yang selama ini membelenggu masyarakat Pulau Maratua, Kabupaten Berau. Ia menilai, sebagai wilayah perbatasan sekaligus destinasi wisata unggulan nasional, Maratua seharusnya mendapat prioritas lebih dalam hal pembangunan infrastruktur dan perlindungan lingkungan.

Salah satu isu mendesak yang diangkat Syarifatul adalah ancaman abrasi pantai yang semakin mempersempit wilayah pesisir di beberapa kampung.

“Abrasi tidak hanya terjadi di Teluk Harapan. Setelah kami tinjau langsung, di Kampung Payung-Payung kondisinya juga memprihatinkan. Ini harus segera masuk dalam daftar prioritas penanganan,” ujarnya, Sabtu (26/07/2025).

Ia menegaskan bahwa meskipun penanganan abrasi merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Kaltim, Pemerintah Kabupaten Berau tidak boleh lepas tangan begitu saja. Syarifatul mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau untuk menjadikan isu ini sebagai salah satu prioritas dalam program pembangunan daerah.

“Kita tidak bisa hanya fokus di Teluk Harapan atau Bidukbiduk. Semua titik rawan abrasi di Maratua harus masuk perencanaan. Kalau dibiarkan, kerusakannya akan makin parah,” tambahnya.

Selain masalah lingkungan, Syarifatul juga menyoroti persoalan infrastruktur jalan yang tak kunjung terselesaikan. Ia mencontohkan kondisi jalan di Teluk Harapan yang menurutnya sangat memprihatinkan.

“Bayangkan saja, satu-satunya akses jalan yang ada hanya disemen sekitar 10 meter. Itu pun sudah lama, dan sekarang kondisinya tidak layak. Mobil pun susah untuk masuk ke sana,” keluhnya.

Padahal, lanjut Syarifatul, kawasan tersebut menyimpan potensi wisata yang besar, seperti spot pemancingan yang bisa dikembangkan untuk menarik kunjungan wisatawan. Ia menilai, akses jalan yang memadai akan menjadi kunci untuk menghidupkan sektor pariwisata di daerah tersebut.

Lebih jauh, Syarifatul mengingatkan pentingnya keadilan pembangunan di Pulau Maratua. Ia menolak jika pembangunan infrastruktur hanya terfokus di satu atau dua kampung saja, sementara wilayah lain dibiarkan tertinggal.

“Maratua ini wajah depan kita di perbatasan. Jangan sampai daerah yang strategis seperti ini justru terabaikan hanya karena akses dan lingkungan tidak diperhatikan,” tegasnya.

Ia pun mendorong pemerintah daerah dan provinsi untuk mengambil langkah nyata dan tidak hanya sekadar memberikan perhatian simbolis. Menurutnya, tanpa keseriusan dari seluruh pihak, potensi besar Maratua hanya akan menjadi wacana tanpa hasil.

“Pemerintah harus punya visi jangka panjang. Kalau dibiarkan, kerusakan lingkungan dan keterbatasan infrastruktur akan terus menghambat kemajuan Maratua,” pungkasnya. (Adv/Rob/Bey)