Kutai Timur – Di tanah subur Karangan, potensi ekonomi mengalir deras seperti sungai yang menembus perbukitan. Dari ladang-ladang kakao hingga hamparan sawah yang menyejukkan pandangan, kecamatan ini memiliki segalanya untuk tumbuh menjadi pusat produksi unggulan Kutai Timur.
Namun, satu hambatan masih menahan lajunya roda pembangunan, yakni akses jalan yang belum tersambung sempurna.
Bagi masyarakat Karangan, jalan bukan hanya jalur penghubung, melainkan nadi yang menyalurkan kehidupan. Melalui jalan, hasil pertanian diangkut, kakao dipasarkan, dan ekonomi berputar.
Namun hingga kini, sebagian ruas jalan penghubung antarwilayah masih terputus, memaksa masyarakat menempuh rute panjang dan berat hanya untuk membawa hasil bumi ke pasar terdekat.
Camat Karangan, Madnuh, mengungkapkan bahwa infrastruktur jalan menjadi kendala utama dalam pengembangan potensi ekonomi di wilayahnya. Ia menilai, kondisi ini menyebabkan produk unggulan seperti kakao dan hasil pertanian sulit berkembang optimal.
“Kesulitan utama dalam mengembangkan potensi ekonomi seperti produk pertanian dan kakao adalah akses jalan yang masih terputus,” ujar Madnuh.
Ia menjelaskan bahwa pihak kecamatan sebenarnya telah mengajukan usulan perbaikan jalan dan sudah mendapat tindak lanjut dari instansi terkait. Namun, hingga kini, belum terlihat aksi nyata di lapangan.
“Kegiatan perbaikan jalan sudah diusulkan dan telah ada tindak lanjut, namun belum ada aksi nyata,” jelasnya.
Madnuh menegaskan, percepatan pembangunan jalan sangat penting agar Karangan tidak tertinggal dari kecamatan lain di Kutai Timur yang lebih dulu menikmati infrastruktur memadai.
Baginya, jalan bukan hanya proyek fisik, tetapi fondasi ekonomi yang menentukan kemajuan daerah.
“Kami berharap pengerjaannya bisa dipercepat agar tidak tertinggal dengan kecamatan lain,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan itu, masyarakat Karangan tetap bertahan. Mereka menanam, mengolah, dan menjual hasil bumi dengan cara sederhana, sembari menunggu jalan penghubung benar-benar tersambung.
Sebab bagi mereka, satu kilometer jalan yang terbuka bukan sekadar infrastruktur, melainkan satu langkah lebih dekat menuju kesejahteraan. (SH/ADV).












