Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Kota Samarinda, Ahmad Vananzda, menyebut jika Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terkesan abai dengan aspirasi para pedagang Pasar Subuh.
Hal tersebut ia sampaikan menyoal meski telah ada komunikasi Pemkot bersama dengan pedagang selama satu setengah tahun tentang relokasi Pasar Sebuh.
Kepada awak media ia tegas mengatakan bahwa dirinya berbicara dengan dasar dan fakta.
Politisi PDIP ini juga menyampaikan kekecewaannya terhadap cara Pemkot melakukan penertiban Pasar Subuh yang berujung ricuh.
Ia menyebut tindakan pembongkaran tersebut seharusnya bisa dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
“Faktanya, saya berbicara ini punya dasar. Tidak mungkin saya bicara tanpa data, meskipun saya pro kepada masyarakat. Ini berdasarkan hasil pertemuan saya dengan pihak pedagang pasar subuh, sehari sebelum pembongkaran, tanggal 8 itu,” ujarnya, pada Jum’at (16/5/2025).
Ia juga mengaku diundang untuk mendengarkan penjelasan pada pedagan mengenai rencana pembongkaran pada tanggal 9.
Meskipun pemberitahuan dinilai terlambat, ia tetap berupaya turun langsung ke lapangan sejak subuh untuk mencegah pembongkaran tersebut.
“Saya minta pembongkaran ditunda. Bayangkan, dari 64 pedagang, 56 di antaranya sudah pindah, tinggal delapan. Tapi yang datang begitu banyak aparat dari kepolisian, TNI, hingga Satpol PP. Kenapa tidak bisa lebih persuasif? Kalau pun harus dilakukan, bicarakan dulu secara baik-baik,” katanya.
Ia menambahkan, penundaan satu atau dua hari seharusnya tidak merugikan negara karena lahan yang digunakan merupakan milik pribadi, bukan aset negara.
“Penertiban ini kesannya sangat dipaksakan. Padahal, dari enam puluh empat pedagang sudah lima puluh enam yang pidah, artinya ada sisa delapan pedagang lagi yang masih bertahan. Mestinya bisa ditangani dengan pendekatan yang lebih bijak, bukan dengan pengerahan aparat dalam jumlah besar,” tutup Vanannda.
Dia akhir ia mendesak agar Pemkot untuk mengevaluasi pola penertiban dan memastikan kejadian serupa tidak terulang dengan pendekatan yang represif. (Adv/Has/Bey)












