Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kaltim

Agusriansyah Ridwan Dorong Pendidikan Berbasis Potensi Lokal untuk Atasi Kesenjangan SDM di Kaltim

183
×

Agusriansyah Ridwan Dorong Pendidikan Berbasis Potensi Lokal untuk Atasi Kesenjangan SDM di Kaltim

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan. (Roby Sugiarto/Timeskaltim)

Timeskaltim.com, Samarinda – Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Agusriansyah Ridwan, menekankan pentingnya transformasi pendidikan yang lebih kontekstual dan berpijak pada potensi lokal sebagai strategi memperkecil ketimpangan kualitas sumber daya manusia (SDM) antara kota dan daerah pinggiran.

Menurutnya, sistem pendidikan yang selama ini terlalu tersentralisasi belum mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat di berbagai wilayah Kaltim, terutama di daerah pesisir dan pedalaman yang memiliki karakteristik dan kekuatan lokal yang khas.

“Pendidikan kita masih terlalu seragam dan berpusat pada standar nasional. Padahal, tiap daerah punya potensi dan kebutuhan yang berbeda. Kalau pendekatannya tidak sesuai dengan kondisi daerah, ketimpangan akan terus terjadi,” ujar Agusriansyah, pada Selasa (15/07/2025).

Ia mencontohkan sejumlah daerah di Kaltim yang memiliki kekayaan sumber daya alam, namun tidak dibarengi dengan kesiapan SDM untuk mengelolanya. Menurutnya, ini disebabkan karena pendidikan yang diberikan belum menyentuh aspek lokal, baik dari sisi kurikulum, keterampilan, maupun nilai-nilai budaya.

“Potensi daerah harus masuk ke dalam sistem pendidikan. Bukan hanya soal materi ajar, tapi juga keterampilan kerja yang sesuai dengan peluang ekonomi lokal. Ini akan menciptakan generasi yang mampu membangun daerahnya sendiri,” jelas politisi PKS tersebut.

Lebih jauh, Agusriansyah mendorong agar kurikulum pendidikan di Kaltim tidak hanya mengikuti pola dari pemerintah pusat, tetapi dikembangkan secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat setempat.

“Pendidikan bukan hanya soal melestarikan budaya, tapi membentuk generasi yang punya identitas kuat dan paham cara memajukan wilayahnya. Kearifan lokal harus jadi landasan utama,” tegasnya.

Ia juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Menurutnya, masyarakat di pelosok selama ini lebih sering menjadi objek kebijakan, tanpa diberi ruang untuk berpartisipasi menentukan arah pendidikan mereka sendiri.

Untuk itu, Agusriansyah mendorong pendekatan partisipatif dalam penyusunan kebijakan pendidikan di daerah. Ia menilai, jika pendidikan dibangun dengan melibatkan masyarakat lokal, maka hasilnya akan lebih relevan dan berkelanjutan.

“Ketika pendidikan mencerminkan identitas lokal, maka yang lahir bukan sekadar lulusan yang pintar, tapi generasi yang tahu siapa dirinya, dan tahu apa yang dibutuhkan daerahnya,” pungkasnya. (Adv/Rob/Bey)