Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Advertorial

Ketika Jarak Menjadi Ujian, Pasien Batu Ampar Pilih Jalan Panjang Demi Kesembuhan

44
×

Ketika Jarak Menjadi Ujian, Pasien Batu Ampar Pilih Jalan Panjang Demi Kesembuhan

Sebarkan artikel ini

Kutai Timur –Di wilayah seluas Batu Ampar, perjalanan menuju kesembuhan sering kali bukan sekadar soal pengobatan, tetapi juga perjuangan menembus jarak dan waktu. Setiap kali ambulans melaju di antara jalan berbatu, pemukiman terpencar, dan hutan lebat yang mengelilingi kecamatan, di sanalah kisah tentang keteguhan warga pedalaman terukir tanpa henti. Bagi sebagian masyarakat, menuju fasilitas kesehatan bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan penuh harapan.

Camat Batu Ampar, Suriansyah, menjelaskan bahwa sebagian besar pasien di wilayahnya harus dirujuk ke luar daerah karena keterbatasan akses menuju pusat layanan kesehatan di ibu kota kabupaten.

“Rujukan pasien umumnya ke Rumah Sakit Pratama Muara Bengkal atau ke Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjahranie di Samarinda lebih diminati karena akses lebih mudah dibanding ke rumah sakit di Sangatta,” ungkapnya.

Pertimbangan ini muncul bukan tanpa alasan. Rute darat menuju Sangatta yang seharusnya menjadi pusat rujukan resmi Kabupaten Kutai Timur justru lebih sulit dilalui akibat kondisi jalan yang belum memadai. Jalur yang rusak, sempit, dan licin saat hujan membuat perjalanan semakin berisiko, terutama bagi pasien dalam kondisi darurat.

Sebaliknya, akses menuju Muara Bengkal dan Samarinda dinilai lebih terbuka dan dapat ditempuh dengan waktu yang lebih singkat, meskipun tetap melelahkan bagi pasien serta tenaga medis. Kondisi ini menggambarkan betapa pentingnya pemerataan infrastruktur kesehatan serta penguatan akses transportasi di wilayah pedalaman seperti Batu Ampar.

Di kecamatan yang dikepung hutan ini, perjuangan menuju rumah sakit sering kali dimulai dari doa, keberanian, dan tekad untuk menempuh jalan panjang demi harapan untuk sembuh. Namun bagi masyarakat Batu Ampar, tak ada jarak yang terlalu jauh jika di ujung perjalanan itu terdapat secercah peluang untuk mempertahankan kehidupan. (SH/ADV)