Timeskaltim.com, Samarinda — Di sebuah rumah sederhana di sudut Samarinda, Dewi, mahasiswa baru Program Studi Sistem Informasi STMIK Samarinda, memulai lembaran baru hidupnya dengan rasa tenang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di balik senyumnya yang tipis, ada perjalanan panjang keluarga kecil yang hidup dari penghasilan tak menentu.
Ayahnya bekerja serabutan, mengambil apa saja pekerjaan yang datang, terkadang buruh harian, kadang membantu tetangga mengerjakan apa pun yang bisa menghasilkan. Sementara sang ibu mengatur keuangan keluarga sehemat mungkin untuk memenuhi kebutuhan tiga anak. Di tengah kondisi itulah, Dewi tumbuh dengan mimpi yang besar, tapi dengan kecemasan yang selalu membayang terkait kuliah.
Momen ketika ia diterima di STMIK Samarinda seharusnya menjadi kabar paling menggembirakan. Namun kebahagiaan itu sempat terselip rasa takut.
“Kami bukan keluarga dengan penghasilan stabil. UKT dan kebutuhan kuliah selalu jadi pertimbangan besar,” ucap Dewi, Senin (17/11/2025).
Memasuki semester pertama, tuntutan biaya datang hampir bersamaan: registrasi, seragam, buku, perlengkapan, hingga biaya modul yang tak sedikit. Dewi sempat membayangkan harus menunda kuliah, atau melihat orang tuanya bekerja lebih keras dari biasanya.
Namun segalanya berubah ketika ia mendapat kepastian menjadi penerima Beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
“Program Gratispol sangat membantu sejak hari pertama kuliah. UKT langsung teratasi, jadi saya bisa registrasi dan mulai kuliah tanpa takut tertunda,” katanya, kali ini dengan senyum lega yang lebih tulus.
Bagi Dewi, beasiswa itu bukan hanya penutup biaya, tapi penyelamat. Ia merasa mendapatkan kesempatan yang setara untuk mengejar pendidikan, tanpa dibayangi kemampuan ekonomi keluarga.
Lebih dari itu, dampaknya terasa hingga ke rumah. “Sebelum Gratispol, keluarga selalu bingung menyiapkan uang untuk UKT. Sekarang kondisi di rumah lebih stabil,” tuturnya sambil menarik napas panjang.
Dengan satu beban besar terangkat, orang tua Dewi kini bisa mengalokasikan penghasilan mereka untuk kebutuhan rumah tangga yang tak kalah pentingnya. Sementara Dewi sendiri memperoleh sesuatu yang juga tak kalah berharga yakni ketenangan.
Ia kini dapat fokus belajar, mengerjakan praktikum pemrograman dasar, memahami struktur basis data, hingga mempelajari analisis proses bisnis tanpa dihantui rasa takut akan putus kuliah di tengah jalan.
“Program ini membuat saya lebih semangat. Saya ingin lulus tepat waktu, jaga prestasi, dan manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin,” ujarnya.
Setiap kali ia membuka laptop untuk mengerjakan tugas atau mencatat materi, Dewi selalu ingat bahwa langkah pendidikannya bukan hanya didorong oleh tekadnya, tetapi juga dukungan pemerintah melalui Gratispol.
Program itu, baginya, bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah.
“Saya berharap program ini terus berjalan dan bisa membantu lebih banyak mahasiswa seperti saya,” tutupnya. (Adv/Diskominfo Kaltim/Has/Bey)












