Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
AdvertorialDPRD Kota Samarinda

Anggota DPRD Samarinda, Ardiansyah, sebut Penanganan Bencana Harus Dimulai dari Tingkat Kelurahan

351
×

Anggota DPRD Samarinda, Ardiansyah, sebut Penanganan Bencana Harus Dimulai dari Tingkat Kelurahan

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kota Samarinda, Ardiansyah. (Hasbi/Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Samarinda – Sejumlah wilayah kota tepian (julukan Samarinda) kembali dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di daerah rawan.

Kepada awak media anggota DPRD Kota Samarinda, Ardiansyah, mengungkapkan bahwa dalam situasi ini, sinergi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dinilai menjadi faktor penting dalam penanganan bencana yang cepat dan tepat.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan bencana harus diawali dari level terbawah, yaitu kelurahan.

Lebih lanjut menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) perlu mengambil peran utama saat terjadi bencana.

“Ketika musibah datang, kelurahan harus sudah siap. BPBD harus menjadi pihak pertama yang bergerak. Setelah itu, Dinas PUPR bisa membantu lewat dukungan alat berat. Tapi semua ini bisa berjalan kalau ada koordinasi,” katanya, Kamis (22/5/2025).

Ia menyoroti pentingnya integrasi antara BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), terutama dalam menyelaraskan penanganan bencana dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Selama ini, menurutnya, OPD masih bekerja secara sektoral dan belum menunjukkan kolaborasi yang solid.

“Kalau masing-masing jalan sendiri, hasilnya tidak akan maksimal,” ujarnya tegas.

Karena itu, Ardiansyah mendorong agar seluruh OPD yang berkaitan, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), duduk bersama merumuskan strategi bersama.

“PUPR itu sangat krusial, karena menyangkut arah pembangunan. Kalau tata ruangnya keliru, dampaknya bisa sangat besar,” sambung dia.

Selain itu, ia juga mengajak kalangan akademisi, seperti profesor dan ahli lingkungan, untuk turut serta dalam menyusun solusi jangka panjang. Ia menilai kehadiran mereka dapat memperkuat langkah-langkah antisipatif terhadap bencana.

“Contohnya soal banjir, masyarakat kerap bertanya kenapa tak kunjung selesai. Jawabannya, karena pembangunan belum selaras dengan kondisi alam. Kita harus menyesuaikan diri, bukan melawan alam. Air pasti mengalir dari atas ke bawah, dan pohon menyerap air lewat akar itu prinsip dasar,” pungkasnya. (Has/Bey)