Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Kukar

Budayawan Kukar Kecam Rencana Pembongkaran Jembatan Besi Peninggalan Kolonial di Tenggarong

915
×

Budayawan Kukar Kecam Rencana Pembongkaran Jembatan Besi Peninggalan Kolonial di Tenggarong

Sebarkan artikel ini
Jembatan Besi di area Keraton Kesultanan Kutai di Tenggarong. (Roby Sugiarto / Times Kaltim)

Timeskaltim.com, Kukar – Komunitas kebudayaan di Kutai Kartanegara (Kukar) mengecam keras rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang akan membongkar Jembatan Besi di Kecamatan Tenggarong.

Jembatan yang disebut sebagai peninggalan era kolonial Belanda itu dinilai memiliki nilai sejarah yang tidak tergantikan.

Berdasarkan informasi yang diterima oleh Timeskaltim.com, pembongkaran jembatan ini dijadwalkan, akan dilakukan pada 15 April 2025 mendatang berdasarkan surat dari kontraktor pelaksana PT Putra Nanggroe Aceh.

Berdasarkan dari data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) proyek ini akan menyedot anggaran sebesar Rp58 miliar melalui APBD Kukar 2025 untuk pembongkaran dan pembangunan jembatan baru di lokasi yang sama.

Namun rencana tersebut menuai protes keras dari para budayawan Kukar. Salah satunya datang dari Awang Rifani, yang menilai bahwa Jembatan Besi adalah bagian tak terpisahkan dari “story of city” Tenggarong.

“Bagi orang-orang lokal, jembatan itu punya cerita panjang. Di seberangnya ada rumah besar, di sini ada keraton. Jalanan itu dulu dipakai Sultan bolak-balik ke sana,” ungkap Rifani di kampus UNIKARTA, pada Sabtu (12/04/2025).

“Kalau dilihat dari umurnya, jembatan itu dibangun tahun 1930-an, bersamaan dengan museum,” lanjutnya.

Menurutnya, Jembatan Besi bukan sekadar infrastruktur usang, tetapi simbol yang melekat kuat dalam ingatan kolektif warga.

“Tidak bisa, ini punya nilai sejarah kota. Ketika orang lihat Jembatan Besi, mereka langsung teringat Tenggarong. Sama halnya kalau lihat museum,” tegas Awang.

Ia juga menambahkan, jika kekhawatiran utama adalah soal kekuatan struktur, maka seharusnya dilakukan pengujian teknis terlebih dahulu, bukan langsung membongkarnya.

Lebih lanjut, Rifani bahkan menyarankan, agar jembatan lama dijadikan jalur khusus pejalan kaki atau pesepeda, dan jembatan baru bisa dibangun di sisi kiri atau kanan untuk kendaraan bermotor.

“Sejarah itu tidak bisa dibeli, tidak bisa dibuat ulang. Kalau pun diganti dengan bentuk yang sama, ceritanya tetap berbeda,” katanya.

Nada serupa disampaikan Yuyun, penggiat budaya yang juga merupakan warga asli Tenggarong.

Selain itu, Jembatan Besi yang dibangun pada tahun 1938 merupakan salah satu ikon pertama kota Tenggarong, selain bioskop dan keraton yang berada di sekitarnya.

“Kalau sampai dibongkar, saya sangat menyayangkan. Itu satu-satunya sejarah yang masih tersisa. Seharusnya diperkuat konstruksinya, bukan diganti,” tutur Yuyun.

Ia juga menegaskan, bahwa setiap pembangunan harus didasarkan pada kajian akademis yang menyeluruh, baik dari sisi teknis, budaya, maupun historis.

Yuyun pun sempat mempertanyakan apakah kajian semacam itu sudah dilakukan sebelum keputusan pembongkaran dibuat.

“Kalau memang dibutuhkan jembatan baru, ya bangun saja alternatifnya. Tapi jangan rusak yang lama,” ujarnya.

Terakhir, Yuyun mengatakan, jembatan besi ini sendiri telah lama masuk dalam daftar Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB), meskipun belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya.

Namun keberadaannya selama hampir satu abad telah menjadikannya bagian dari narasi sejarah dan identitas kota Tenggarong

“Tidak ada pembangunan yang lebih baik dari pelestarian, jika masih ada alternatif lain, untuk apa bongkar,” timpanya. (Rob/Bey)