Timeskaltim.com, Samarinda – Bukan sesuatu hal yang terbilang baru, genangan banjir yang merendam pemukiman masyarakat di Komplek Perumahan Griya Mukti, Jalan PM Noor, Kota Samarinda, memaksa warga sekitar harus mengungsi.
Hujan deras yang mengguyur Kota Tepian sejak 26 hingga 30 Januari 2025 lalu menghadilkan ketinggian sekitar 70 CM, atau sepingging orang dewasa.
Ayu (42) tahun warga Perumahan Griya Mukti, mengaku kurang lebih hampir sepekan ini memilih untuk mengungsi karena rumahnya telah di isi penuh oleh air.
“Iya mengungsi kerumah keluarga. Kebetulan rumahnya kan tingkat dua, jadi untuk sementara disitu dulu,” ucap Ayu kepada wartawan Timeskaltim.com, Kamis (30/1/2025) sore.
Meski perlahan surut, Ayu berujar, akibat dari banjir ini aktivitas masyarakat termasuk dirinya betul-betul terganggu. Bahkan ia mengaku terkena gatal-gatal pada kulit akibat air banjir.
“Iya pasti terganggu apalagi orang-orang yang kerja inikan buat keluar dan masuk pasti lumpuh total,” ungkapnya.
Ia menambahkan, telah hampir sepekan terkena banjir dan memilih mengungsi. Menurutnya, bantuan dari pemerintah berupa dapur umum dan bantu kesehatan sejauh ini sudah cukup membantu.
Kendati demikian ia berharap semoga banjir bisa lekas surut dan aktifitas masyarakat bisa kembali normal. Pasalnya, keprihatinanya terhadap aktivitas anak-anak sekolah yang akan segera mulai, setelah libur panjang hari Raya Imlek dan Isra Mi’aj.
“Iya semoga cepat surut, kasihan anak-anak sudah mau masuk sekolah. Kami juga berharap ada bantuan sembako dari pemerintah. Sebetulnya itu aja yang paling penting, karena kami betul-betul tidak beraktivitas,” pungkasnya.

Berbeda dengan yang disampaikan Ayu, Johadi (62) warga RT 32 Jalan Pemuda, mengungkapkan bahwa sejauh ini penanggulangan banjir yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda di bawah kepemimpinan Andi Harun-Rusmadi kian mengurangi masalah banjir di areal pemukiman nya.
Johadi mengaku meski masih di genangi air, banjir kali ini betul-betul jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Johadi berujar, meski banjir air juga dengan cepat surut kembali.
“Alhamdulillah bagus sekali, beda pokoknya dari sebelum-sebelumnya. Biasanya kami di RT 32 ini kalau sudah musim hujan seperti sekarang ini bisa hampir seninggu banjirnya,” ucap Johadi kepada wartawan Timeskaltim.com,
Sementara itu pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (UNMUL), Purwadi Purwoharsojo, mengungkapkan, seyogianya agar penanggulangan banjir Samarinda dapat dituntaskan, alangkah baiknya terlebih dahulu menyelesaikan masalah di hulu.
Hal itu diduganya karena ada kemungkinan lahan bekas tambang di hulu Samarinda, legal maupun ilegal menjadi pemicu banjir yang telah bertahun-tahun terjadi.
“Sebelum ke hilir, seharunya masalah di hulu diselesaikan. Sejauh inikan tambang illegal jadi kambing hitam. Tapi tidak pernah juga selesai soal ini. Artinya omong kosong saja ini,” beber Purwadi, kepada wartawan Timeskaltim.com, saat dihubungi melalui platfrom WhatsApp, Jum’at (31/1/2025)
Lebih lanjut, Purwadi menegaskan, Pemkot Samarinda harus betul-betul memetahkan penggunaan anggaran dengan baik. Agar pembangunan dalam sekala prioritas, seperti penanggulangan banjir bisa diselesaikan.
Menurutnya periode kedua Andi Harun, harus mengutamakan penggunaan anggaran untuk menangani banjir. Tidak tuntasnya banjir pada periode pertama maka ini harus jadi bahan evaluasi kinerja Wali Kota.
“Banjir harus jadi prioritas utama, karena itu bagaian dari janji politik Wali Kota terpilih. Saat kampanye diawal peroide pertama dulu,” timpalnya.
Menutup pernyataan nya, dosen senior Fakultas Ekonomi UNMUL ini menyebutkan bahwa tanpa dukungan anggaran yang kuat. Maka soal banjir yang nyaris dua dekade ini tak akan kunjung terselesaikan.
Oleh karena itu, jika cuma memerlukan anggaran sebesar 900 miliar menurutnya masih kurang.
“Harusnya kalau perlu anggarannya ditingkatkan menjadi 1 sampai 2 triliun. Yang penting benar-benar untas soal banjir Samarinda daru hulu ke hilir,” pungkasnya. (Has/Bey)












