Timeskaltim.com, Samarinda – Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsojo, memberikan kritik tajam terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim).
Kritikan tersebut dilayangkan sebab pemerintah berencana mengucurkan dana sebesar Rp50 miliar kepada tiga dari delapan Perusahaan Daerah (Perusda). Menurutnya, Perusda yang tidak produktif hanya menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Harusnya Perusda yang tidak produktif ini lebih baik di amputasi saja. Mereka seperti penyakit bisul yang terus menggerogoti APBD Kaltim,” ujar Purwadi saat dihubungi via WhatsApp, Senin (23/12/2024).
Purwadi menjelaskan bahwa upaya menghidupkan kembali Perusda bermasalah hanya membuang-buang anggaran. Menurutnya, membubarkan Perusda yang tidak sehat akan lebih efektif daripada memberikan suntikan dana.
“Ibarat penyakit jantung, tiga Perusda bermasalah ini sudah stadium tujuh. Ngapain makan gaji buta dan tidak profesional?” tegasnya.
Ia juga mengkritik seleksi pimpinan Perusda yang dinilainya tidak berdasarkan kualitas dan kapasitas. Purwadi menyebut proses seleksi sering kali hanya menjadi formalitas, dengan latar belakang kandidat yang diduga titipan pihak tertentu.
“Seleksinya tidak profesional, dan ujung-ujungnya Perusda hanya jadi ATM bagi pejabat karena tidak punya rencana bisnis yang jelas dan terukur,” tambahnya.
Purwadi menyarankan agar dana sebesar Rp50 miliar yang dialokasikan untuk Perusda dialihkan ke sektor yang lebih bermanfaat, seperti program beasiswa Kaltim Tuntas atau perbaikan infrastruktur di Kalimantan Timur.
“Beasiswa Kaltim Tuntas yang sempat dipangkas beberapa waktu lalu akan lebih tepat jika ditambah alokasinya, daripada dipakai untuk mengobati Perusda yang sakit-sakitan. Atau mungkin untuk membenahi infrastruktur yang masih banyak butuh perhatian,” tutup dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul itu. (Has/Bey)












