Timeskaltim.com, Kutim – Panjangnya antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kutai Timur semakin meresahkan masyarakat. Anggota DPRD Kabupaten Kutai Timur, dr. Novel Tyty Paembonan, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi ini dan menegaskan bahwa fenomena antrean yang memakan bahu jalan tidak dapat dibiarkan terus berlanjut. Novel menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk mencari solusi yang efektif.
“Antrean BBM yang sampai ke bahu jalan ini bukanlah hal yang benar, dan ini tidak boleh menjadi alasan bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan. Ini adalah tanggung jawab pemerintah dan semua pihak terkait untuk mencari solusi atas antrean panjang ini, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas, baik barang maupun jasa,” ujar Novel Paembonan.
Novel mengakui bahwa kebutuhan BBM masyarakat sangat tinggi, sementara ketersediaan BBM sering kali terbatas. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk antre, bahkan hingga memakan badan jalan, yang pada akhirnya mengganggu kelancaran lalu lintas. Namun, menurut Novel, hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mencari solusi.
“Memang benar kebutuhan BBM sangat tinggi, dan masyarakat harus antre. Namun, antrean yang memakan bahu jalan ini tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Harus ada skema atau sistem yang dibuat untuk mengatasi masalah ini,” tegasnya.
Novel mengajak pemerintah daerah, pengelola SPBU, dan seluruh pihak terkait untuk duduk bersama dan merumuskan solusi yang bisa diterapkan. Solusi tersebut diharapkan dapat mengurangi panjangnya antrean tanpa mengganggu arus lalu lintas.
“Kita perlu duduk bersama dan mencari solusi yang terbaik. Misalnya, pengaturan jadwal pengisian BBM, penambahan jalur khusus di SPBU, atau peningkatan distribusi BBM agar lebih merata. Langkah-langkah ini bisa membantu mengurangi antrean panjang dan dampaknya terhadap lalu lintas,” tambahnya.
Novel juga mengingatkan bahwa masalah antrean BBM yang mengular hingga ke pinggir jalan bukan hanya terjadi di Kutai Timur, tetapi juga di kota-kota besar seperti Balikpapan dan Samarinda. Namun, hal ini tidak boleh menjadi pembenaran untuk tidak segera mencari solusi.
“Di Balikpapan dan Samarinda juga terjadi antrean panjang BBM yang memakan bahu jalan. Namun, kita tidak boleh menjadikan ini sebagai alasan untuk tidak bertindak. Setiap daerah harus berusaha mencari solusi untuk mengatasi masalah ini,” jelasnya.
Novel Paembonan berharap bahwa dengan adanya kerjasama yang baik antara pemerintah daerah, pengelola SPBU, dan masyarakat, masalah antrean panjang BBM yang mengganggu lalu lintas dapat segera diatasi. Ia juga mengajak masyarakat untuk bersabar dan mematuhi aturan yang ada demi kebaikan bersama.
“Kami di DPRD akan terus mendorong pemerintah daerah dan pengelola SPBU untuk berkoordinasi dan mencari solusi terbaik. Kami juga berharap masyarakat dapat bersabar dan mengikuti aturan yang ada demi kebaikan bersama,” tutupnya.
Dengan adanya solusi yang tepat dan koordinasi yang baik, diharapkan masalah antrean panjang BBM yang mengganggu lalu lintas dapat segera teratasi, sehingga kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan dapat terjaga. (SH/ADV)












