Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Business

Harga Batu Bara Anjlok, Kaltim Kembali Terancam Krisis Ekonomi

5784
×

Harga Batu Bara Anjlok, Kaltim Kembali Terancam Krisis Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Batu Bara melintas di Sungai Mahakam, Samarinda.(Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda – Sempat melambung tinggi harga batu bara. Kini, justru kembali merosot, alias anjlok. Hal demikian di latarbelakangi karena China dan India yang mulai beralih menuju ke ekonomi terbarukan. Sehingga, berpotensi bakal mengancam keberlangsungan siklus ekonomi Indonesia. Terkhusus, Kalimantan Timur (Kaltim).

Diketahui pada September 2022, harga batu bara dunia dibursa ICE Newcastel sempat mencapai USD436 atau Rp. 7.094.592 (kurs 16.272) per ton, ini menjadi nominal tertinggi di sepuluh tahun terakhir. Hingga pada Januari 2023 harga emas hitam itu relatif stabil dikisaran USD245 per ton sampai USD402 per ton.

Sepanjangan Februari 2023 hingga Juni 2024 harga batu bara tidak pernah lagi mencapai USD200 per ton, sehingga dalam kurun waktu 17 bulan terakhir, nilai tertinggi hanya terjadi pada 2 April 2023 yakni USD197 per ton dan untuk nilai terendahnya mendekati USD116 per ton pada 1 Februari 2024. Namun pada 12 Juni 2024, untuk harga komoditi dikisaran USD132 per ton.

Diperkirakan harga emas hitam itu sewaktu-waktu masih bisa berubah, bisa naik dan bisa juga turun hal demikian di karenakan harga jual energi fosil bersifat fluktuatif.

Menurut pengamat ekonomi Purwadi mengatakan bahwa harga batu bara tidak lagi bisa naik seperti dua tahun belakangan ini, ia menyebutkan lantaran ada beberapa faktor salah satunya masih terjadi perang di beberapa negara.

Hal berikutlah yang membuat upaya ekspor batu bara indonesia sulit masuk negara konflik, hal lainya juga bisa dilihat bahwa harga batu bara terbilang cukup tinggi dibanding dengan energi terbarukan.

“Kalau dilihat sejumlah negara sedang mengupayakan energi nuklir karena dinilai lebih murah daripada batu bara,” ucap Purwadi saat diwawancarai wartawan Timeskaltim Kamis (13/06/2024).

Dosen Universitas Mulawarman itu juga mengatakan bahwa, ada dua negara besar yang merupakan konsumen batu bara indonesia seperti China dan India juga terus mencoba meningkatkan energi baru terbarukan.

“Mereka semakin fokus membangun ekonomi terbarukan”, katanya.

Pada tahun 2014-2015 harga batu bara juga perna jatuh yaitu diangka USD50 per ton, dan ekonomi kaltim pun dalam kategori terpuruk, sehingga pertumbuhan ekonomi kaltim kala itu minus 1,28 persen di 2015.

Ia juga menyebutkan bahwa penjualan batu bara dengan harga murah tentu membuat perusahan semakin sulit, dikarenakan biaya produksi yang tinggi namun nilai pendapatan yang rendah.

“Sulit bagi perusahan untuk bertahan, karena biaya pengeluaran nya tingga tapi pendapatan nya justru rendah”, ujarnya.

“Jika dalam situasi yang begini, membuat perusahan menjadi dilema sehingga nanti berujung pada pengurangan tenaga kerja,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa masalah-masalah seperti ini sudah pernah terjadi yaitu ditahun 2015, dimana Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di beberapa provinsi tidak terkecuali di kaltim sendiri.

Ada sebanyak 633 perusahan melakukan upaya PHK hingga total ada 11.471 tenaga kerja di kaltim yang terkena dampak tersebut, yang paling parah terjadi di kota beriman – julukan Kota Balikpapan itu – dengan kisaran sebanyak 7.088 tenaga kerja yg terkena PHK.

Diakhir ia menunjukan rasa pesimisnya bahwa pemerintah kaltim dapat keluar dari zona sulit ini, lantaran menurutnya pemerintah yang hanya bicara saja tentang transformasi ekonomi kotor menuju ekonomi hijau dan ekonomi biru.

Namun rencana besar pemerintah itu masih sangat mini realisasinya, hal demikian yang menurutnya sukar rasanya kaltim untuk melepaskan diri dari ketergantungan energi fosil.

“Kita akan lihat nanti sejauh mana upaya pemerintah dalam mengatasi masalah ini.” pungkasnya.(Has/Wan)