Scroll untuk baca artikel

dprd TIMES KALTIM
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Daerah

Terik Panas Masih Melanda Kota Samarinda, Kekeringan Air Ancam Keberlangsungan Hidup

621
×

Terik Panas Masih Melanda Kota Samarinda, Kekeringan Air Ancam Keberlangsungan Hidup

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi kekeringan air.(Ist)

Timeskaltim.com, Samarinda – Kota Tepian kini dilanda terik panas berkelanjutan. Kondisi tersebut merupakan imbas musim kemarau yang datang lebih cepat dari tahun sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terjadinya kemarau dalam waktu 3 bulan. 

Kemarau ini dipicu fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang datang bersamaan. Jika tahun sebelumnya dilanda kemarau basah, maka di tahun 2023, Kaltim secara umum akan dilanda kemarau normal.

El Nino adalah pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normal. Meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di beberapa wilayah, termasuk Indonesia. 

Sementara IOD, merupakan fenomena osilasi (variasi periodik terhadap waktu dari suatu hasil pengukuran) suhu air permukaan laut yang tak teratur. Kondisi ini menyebabkan wilayah barat Samudra Hindia lebih hangat dan lebih dingin dibandingkan wilayah timur Samudra Hindia. 

Puncak musim kemarau di tahun ini akan terjadi di bulan Agustus-September. Kemarau akan mulai menurun pada bulan Oktober. Kondisi ini jauh lebih kering dibandingkan 2020, 2021, dan 2022.

Wilayah Curah Hujan Rendah

Saat ini, Kaltim bagian selatan meliputi sebagian wilayah Penajam Paser Utara (PPU) dan seluruh wilayah Paser, serta Kaltim bagian timur, yakni Samarinda dan Kutai Kartanegara (Kukar), termasuk Kaltim bagian utara, yaitu sebagian wilayah Berau, akan mengalami curah hujan yang rendah.

Berkisar 50–100 milimeter saja per bulan. Kemudian memasuki September, giliran Kaltim bagian timur, yakni seluruh wilayah Bontang, sebagian wilayah Kutai Timur (Kutim), Samarinda, dan Kukar, dan wilayah Kaltim bagian barat, yaitu sebagian wilayah Kutai Barat (Kubar), mengalami hujan dengan intensitas rendah yang terjadi pada dini hari, pagi dan siang atau sore.

Hal serupa juga akan melanda Kaltim bagian selatan. Yakni sebagian wilayah Balikpapan dan PPU, serta seluruh wilayah Paser. 

Sementara itu, pada Oktober, giliran Kaltim bagian utar, yakni sebagian wilayah Berau, Kaltim bagian timur, meliputi sebagian wilayah Kutim dan Bontang, serta Kaltim bagian selatan, terdiri dari sebagian wilayah PPU dan seluruh wilayah Paser menghadapi cuaca ekstrem.

Kepala BMKG Samarinda, Riza Arian mengatakan, intensitas curah hujan di Kota Tepian sangat rendah, terutama dua pekan terakhir. Dari sembilan titik pos pantau hujan, tidak terjadi hujan sama sekali. 

Di Pos Temindung sempat terjadi hujan sepekan lalu, namun sangat kecil yakni hanya terukur di bawah 10 mm. Hujan intensitas kecil ini hanya terjadi beberapa menit saja.

Fenomena El Nino dan IOD positif yang saling menguatkan membuat musim kemarau tahun ini menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah. Jika biasanya curah hujan berkisar 20 mm per hari, pada musim kemarau ini menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

“Melihat kondisi saat ini, sebaiknya warga bijak dalam menggunakan air bersih. Karena akan kurang pasokan air terutama mereka yang menggunakan tampungan air hujan,” kata Riza, dikonfirmasi Timeskaltim.com, pada Sabtu (5/8/2023) siang

Selain itu, Riza menerangkan, jika titik panas di Kaltim mulai terlihat di radar BMKG.

Karhutla Merajarela

Hampir seluruh wilayah kini terlihat titik panas. Meski begitu, titik panas ini bukan berati terjadi kebakaran lahan. Bisa saja akibat efek rumah kaca atau atap rumah yang menggunakan bahan seng sehingga memantulkan kembali panas dari matahari.

“Tercatat titik panas di Kaltim sangat banyak. Ada 197 titik. Hal itu dapat menimbulkan titik api yang memicu karhutla. Itu kemungkinan dapat menimbulkan titik api,” tegasnya.

Selain Karhutla, pihaknya juga mengingatkan akan kekeringan yang dialami lahan pertanian. Hal ini sudah terlihat di beberapa wilayah salah satunya di Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. 

Di lokasi ini fenomena kekeringan sudah jelas terjadi. Selama puncak musim kemarau ini, pemanfaatan air untuk kebutuhan dari sisi pertanian harus menjadi perhatian.

Dengan menggunakan strategi jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air. Pemerintah daerah perlu segera melakukan aksi mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan sangat kering ini.

”Lahan pertanian berisiko mengalami puso alias gagal panen akibat kekurangan pasokan air saat fase pertumbuhan tanaman,” ungkapnya. 

Selain itu, kondisi kekeringan tersebut dapat berujung pada bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Jika tidak terkendali, hal itu bisa menimbulkan krisis kabut asap. Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kualitas lingkungan, tetapi juga ekonomi, sosial, hingga kesehatan masyarakat.

“Belum lagi, di musim kemarau udara akan menjadi lebih kering dan banyak debu, sehingga juga sangat rentan terhadap persebaran penyakit,” ujarnya. 

Riza mengingatkan semua pihak untuk menghemat penggunaan air di dalam maupun luar rumah.

Kemarau kering yang melanda akibat El Nino dan IOD positif diperkirakan membuat debit air sungai maupun sumber mata air mengalami penurunan. Hal tersebut dapat berdampak pada ketersediaan dan pasokan air bersih.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan, saat ini sudah memasuki El Nino, di mana suhu mulai memanas dan tingkat kekeringan mulai melanda di beberapa titik.

“Banyak sungai mulai surut. Membuat debit air menjadi rendah,” ucap Suwarso. 

Dia menjelaskan, kewaspadaan yang perlu diperhatikan adalah intrusi air laut, pasalnya dapat mengganggu operasional Perumdam Tirta Kencana sebagai perusahaan yang memproduksi air bersih.

“Informasi dari BMKG yang kami terima masih ada hujan, tapi hanya sekitar 5–10 hari saja sebulan,” sebutnya. 

Dia meminta masyarakat berhemat dalam pemakaian air. Kalaupun ada hujan, bisa dilakukan pemanenan hujan. Tidak hanya itu, karhutla berpotensi terjadi. 

“Warga diharapkan tidak membuka lahan dengan cara dibakar ya,” pungkasnya.(*/Wan)