Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Berby/ Times Kaltim)
Timeskaltim.com, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim terus menekan lonjakan stunting dan menargetkan penurunan angka stunting pada balita.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin menjelaskan, pihaknya menargetkan prevalensi stunting di Kaltim turun sebesar 4,95 persen setiap tahunnya. Sehingga pada tahun 2024, Kaltim dapat turun sebesar 14 persen.
“Penurunan stunting di Kaltim dipatok menjadi 18,9 persen pada 2023, sehingga pada 2024, Kaltim dapat mencapai 14 persen” ucap Jaya, Jumat (3/2/2023).
Jaya menuturkan, pada 2022 lalu, terjadi peningkatan prevalensi balita stunting sebesar 1,1 persen dari nilai 22,8 persen jika dibandingkan pada 2021. Berarti, terjadi kenaikan menjadi 23,9 persen.
“Menurut survei nasional, kita naik 1,1 persen, namun dibandingkan dari seluruh provinsi di Kalimantan, Kaltim terendah” ujarnya.
Menurutnya, angka stunting di Kaltim masih terendah dibandingkan dengan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Menurut survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, kasus stunting tertinggi di Kaltim berada di wilayah Kutai Kartanegara, yakni sebesar 27,1 persen, dilanjutkan kota Samarinda sebesar 25,3 persen, diikuti Kabupaten Paser dengan nilai 24,9 persen, dan dilanjutkan Kabupaten Kutai Timur (24,7%), Kabupaten Kutai Barat (23,1%), Kabupaten Penajam Paser Utara (21,8%), Berau (21,6%), kota Bontang (21%), kota Balikpapan (19,6%), dan terakhir Kabupaten Mahakam Ulu (14,8%).
Selain itu, demi mendukung program kesehatan, pihaknya berupaya untuk terus memantau dan meningkatkan pelayanan kesehatan di Kaltim.
“Kita akan adakan lomba posyandu terbaik di semua kabupaten/kota sehingga masyarakat lebih antusias dalam mendukung program kesehatan ini” pungkasnya. (Adv/Bey/Diskominfo Kaltim)












